Surat-Surat yang Menghidupkan: Anne Frank, Kartini, and Eleanor Roosevelt

by Kadek Sonia Piscayanti

Pada sebuah pagi. Saya membaca kembali Anne Frank, Kartini dan Eleanor Roosevelt. Saat ini adalah pagi dimana saya dikejar banyak deadline. Proposal disertasi, tugas akhir semester, dan kelas menulis yang harus saya mulai. Di dalam semua itu ada agenda memasak, menyiapkan sarapan, membantu anak anak mengerjakan tugas, dan membantu diri saya sendiri tetap waras. Tetapi di dalam semua keriuhan itu, buku adalah salah satu sarapan yang jarang saya tinggalkan. Setiap pagi saya akan membaca buku dan mengambil pelajaran darinya.

Saya ambil Anne Frank dan Kartini. Lalu saya membaca dan saya hubungkan dengan Eleanor Roosevelt yang menulis pengantar di kedua buku itu.

Saya membaca ini di bulan Mei. 2021. Sementara Anne Frank menulis di bulan Mei 1944. Dan Kartini menulis di bulan Mei 1899. Semua terasa terhubung. Namun angka tahun yang berbeda melahirkan suasana yang sama sekali berbeda. Eleanor Roosevelt menulis pengantar untuk buku Kartini di tahun 1961. Sedangkan untuk Anne Frank, pada 1967. Saya menghubungkannya di tahun 2021.

Kami empat perempuan yang sama sekali berbeda. Yang membuat kami terhubung, tentu karena kami sama sama pencerita. Dan penulis.

Saya akan menulis bagaimana perjuangan Anne dan Kartini di masa itu, melihat kondisi yang bisa disebut ‘penjara’, dalam konteks Anne dia adalah keturunan Yahudi di Belanda yang saat itu dikuasai Jerman, menyembunyikan diri untuk kapanpun jika ditemukan akan dilenyapkan; lalu dalam konteks Kartini, sebagai perempuan Jawa yang dikungkung adat tradisi kuno untuk tidak boleh bersekolah, di sebuah negeri yang dikuasai penjajah Belanda; lalu Eleanor Roosevelt, seorang Ibu Negara Amerika Serikat yang juga sedang berjuang menciptakan demokrasi; lalu saya sebagai remah remah di masa ini, sebagai Ibu yang belum banyak berbuat apa apa. Hanya bisa menulis, bagaimana perempuan dan kekuatannya bisa mengubah dunia menjadi dunia yang saat ini kita pijaki.


Sebuah peristiwa yang membuat seseorang menulis adalah sebuah tujuan. Anne menulis dengan sebuah tujuan. Kartini pun. Eleanor pun. Mereka hadir untuk selamanya, tertulis dan mengubah sejarah.

Ibu ibu di masa kini yang banyak memiliki ide, harapan dan mimpi, mari menulis untuk menyampaikan pesan. Bagi yang ingin mendengar.

You may also like