Dear Ibu

by Kadek Sonia Piscayanti

Sepeninggal Bapak, Ibu selalu murung. Apa yang Ibu pikirkan soal kehilangan. Apakah Ibu rindu membuatkan sambel buat Bapak. Apakah Ibu rindu bertengkar dengan Bapak. Apakah Ibu ingin melakukan hal hal yang biasanya Ibu lakukan bersama Bapak.
Tentu saja Ibu merindukan Bapak. Empat puluh empat tahun sudah bersama, lalu mendadak terpisahkan, bagaimana tidak kangen. Ibu kehilangan partner hidup, pasangan debat, pasangan romantis dan sekaligus pasangan aneh. Kami menyaksikan sendiri perjuangan Bapak dan Ibu mengarungi rumah tangga yang kokoh ini. Kami menyaksikan keromantisan Bapak dan Ibu sekaligus juga pertengkaran demi pertengkaran yang sangat sepele seperti cara meletakkan makanan yang baik di dapur. Atau cara menyendok sayur dengan benar. Atau cara menghabiskan makanan dengan elegan.
Dear Ibu
Sabarlah, meski sulit menerima kenyataan. Tapi dengan ikhlas dan tabah ini semua bisa dilewati bersama.
Jangan menangis lagi, karena kini Ibu harus memikirkan kesehatan Ibu.

Untuk kita semua.

You may also like