Dear Bapak

by Kadek Sonia Piscayanti

Dear Bapak

Sudah 1 bulan lebih dua hari Bapak pergi. Jadi bagaimana kabar udara dan langit disana? Bagaimana wajah dunia disana? Apakah Bapak sudah punya teman? Pasti banyak teman, apa Bapak justru reuni disana dengan sahabat Bapak? Apakah Bapak menyukainya? Apakah Bapak betah disana?

Ini adalah jarak paling jauh sekaligus paling dekat antara kita. Bapak sudah tahu kan, sedih saya bagaimana. Bapak lihat sendiri, saya rapuh ketika Bapak pergi. Setiap berdoa saya menangis. Entah apa yang saya sedihkan, selain bahwa saya selalu memikirkan Bapak, tapi mungkin juga ini semata ego saya untuk tetap memiliki Bapak.

Kata orang, jangan terlalu bersedih berlarut-larut. Bagaimana bisa. Bapak itu terlalu dominan dalam hidup saya dalam arti yang positif. Bapak ada dimana-mana dalam hidup saya. Ada di hati saya. Ada di hembusan nafas saya. Tapi ketika Bapak pergi, dalam kondisi mendadak dan saya tidak siap, saya seolah ingin memperbaiki keadaan. Saya ingin menyutradarai keadaan, saya ingin mengatur hidup seperti yang saya inginkan. Padahal saya bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa. Saya cuma berbekal keras kepala. Seperti Bapak.

Mungkin saya terlalu terbiasa mendapatkan apa yang saya inginkan ya. Saya jarang tidak mendapatkan yang saya inginkan. Meskipun perjuangan untuk mendapatkan sesuatu itu juga panjang. Tapi biasanya hidup saya manis manis saja. Lurus lurus saja. Semua fine.

Hingga hari ketika Bapak pergi. 4 Juli. 2021. Pagi-pagi buta whatsapp grup keluarga kita bernada genting. Adik cemas, Bapak sesak. Sekira jam 4. Tidak seperti biasa. Sesaknya intens. Saya menyarankan segera ke UGD. Agar mendapat pertolongan. Saya mulai cemas, sungguh, tak biasa Bapak begini. Sesaat kemudian saya cek grup lagi, ternyata Bapak belum mau berangkat, padahal sudah hampir jam 5. Saya menghubungi Dokter Arya mengabarkan kondisi Bapak. Diminta segera ke UGD. Rupanya Bapak ragu dan menunggu. Entah apa. Namun yang jelas Bapak akhirnya mau. Saat itu semua terjadi saya di kampung Tabanan, sedang ada acara. Adik bilang segera pulang. Dan saya tidak perlu pikir panjang, segera bersiap pulang. Anak-anak masih tidur. Suami saya bangunkan sebentar bilang bahwa saya akan pulang sendiri. Supaya cepat. Pukul 5.15 saya keluar dari rumah di kampung, masuk mobil dan mulai menyetir dalam kondisi sangat bersedih.

Sepanjang perjalanan saya sudah menangis. Menerka apa yang akan terjadi, bagaimana jika, dan seterusnya. Jalanan sepi dan saya sedikit ngebut ingin segera sampai. Saya sudah berusaha. Sekitar pukul 6 Adik menelpon dan saya bilang sedikit lagi. Pukul 6.32. Adik menelpon lagi. Bapak sudah pergi. Jam 7 kurang sepuluh menit, saya tiba di rumah sakit. Adik menyambut dengan pelukan dan tangisan. Bapak. Betapa cepat semua berlalu.

Saya mencoba setegar mungkin. Hanya kita bertiga saat itu. Bapak, adik dan saya. Keluarga lain tak tahu. Ibu, baru dijemput Adik, dan ketika saya berdua dengan Bapak, saya menatap Bapak dan meraba tubuhnya yang masih hangat. Saya berpikir Bapak akan bangun lagi, mungkin bisa bangun lagi. Tapi tidak.

Ketika Ibu datang dengan histeris, kondisi Ibu sangat kacau. Beliau berusaha mengguncang-guncang Bapak, membangunkan, mengupayakan agar keajaiban datang. Tapi tidak ada.

Dan begitulah semuanya terjadi. Keluarga satu persatu datang. Saya mulai berpikir what’s next. Upacara. Dan seterusnya. Berpikir jernih adalah sebuah pilihan. Saya tegarkan diri. Koordinasi keluarga, menyiapkan semuanya untuk upacara Bapak.

Menyiapkan semua, perlu waktu, jadi Bapak sementara kami titipkan di ruang jenasah. Saya melihat Bapak masuk ke box jenasah, kami mengantarnya. Kami masuk lift dengan box jenasah Bapak. Keluar lift, dalam kondisi Ibu yang sangat terpuruk ruang jenasah sangat jauh terasa bermil mil ditempuh dengan jalan kaki. Perjalanan terberat dan ter-menyedihkan.

Lalu kami pulang sesaat untuk menyiapkan rumah ‘menyambut’ Bapak dan keluarga sudah berkumpul dengan sedih. Semua persiapan dilakukan. Saya berkoordinasi dengan keluarga untuk upacara Bapak, memilih hari, mempertimbangkan ini dan itu dan semuanya.

Adik mengurus surat-surat penting, sementara saya mengurus persiapan upacara, mendaftar ke setra adat (tempat pengabenan) dan mengurus administrasi. Setelah semua selesai, Bapak siap dijemput. Saya dan Adik menjemput Bapak di kamar jenasah. Setelah beres administrasi, kami menerima jenasah Bapak langsung dibawa ke ambulans jenasaj. Saya sendiri yang berada di ambulans jenasah, sementara Adik mengikuti di belakang dengan mobil. Saya merasa momen absurd, mengantar Bapak pulang dalam keadaan tak pernah terbayangkan, menyedihkan.

Lalu Bapak pun pulang, disemayamkan di rumah. Doa-doa dari para sahabat dekat dan keluarga terus hadir di rumah. Selama itu pula dunia terasa asing, air mata mengalir. Kepala sakit. Tubuh lemas. Dan hampir tak berdaya.

Singkat cerita pada hari Rabu, tanggal 7 Juli. Bapak sudah selesai diupacarai.
Sebulan setelah Bapak pergi, 7 Agustus 2021.
Saya masih sangat kehilangan Bapak. Hari-hari tanpa pesan whatsapp Bapak sangat ganjil. Hari-hari tanpa deru motor Bapak sangat tidak enak. Hari-hari tanpa motivasi Bapak, aneh dan asing.

Kalau lagi di mobil, saya nangis, karena saya merasa Bapak lagi jalan-jalan dekat saya. Kalau sedang makan, saya juga ingat Bapak. Terutama kalau membayangkan Bapak suka sekali masakan saya yang sederhana ga ribet dan ga lama. Trus kalau liat Kayu main gitar, saya ingat Bapak juga, karena Bapak suka ajarin Kayu main gitar. Liat Putik sama saja, Bapak suka mengingatkan Putik jangan suka main hp terlalu lama.

Jadi beginilah Pak. Saya lama sekali berjuang mengatasi kesedihan saya. Setiap detik saya ingat Bapak. Dan entahlah, seorang kemudian mengingatkan saya, mengapa kamu bersedih. Mengapa. Apa alasan terkuatnya?

Apakah kamu sedih karena belum puas sama Bapak, apa marah sama keadaan, atau kecewa, atau cemas, atau egois saja. Sebetulnya kenapa?


Saya membaca lagi diri saya. Membaca lagi diri Bapak. Saya tidak mau egois lagi. Bapak milik semesta besar. Sementara saya hanya memiliki Bapak di semesta kecil. Harusnya saya bahagia Bapak pulang dengan tenang dan damai. Mengapa saya sedih? Ya mengapa?

Bapak sudah melakukan semua yang terbaik semasa hidupnya. Saya mungkin yang kurang memberikan yang terbaik, karena saya merasa Bapak akan lama bersama saya. Mungkin saya ingin lebih baik lagi, mungkin saya terus ingin lebih lama lagi bersama Bapak, karena keegoisan saya semata.

Tapi selama hidupnya Bapak selalu mengatakan saya hebat, padahal saya belum, Bapak bilang bangga pada saya padahal saya rasa belum, banyak yang belum saya berikan ke Bapak.

Bapak, ini sudah sebulan. Bapak pasti sudah tahu saya kangen. Saya cuma bisa nulis ini. Rencana saya rutin menulis soal Bapak.

Sekarang sudah dini hari. Saya belum bisa tidur. Mungkin sebaiknya saya berdoa. Dan saya tutup tulisan ini. Bapak baik-baik disana, jaga kami semua ya.

You may also like